Hari dimana kita memulai kehidupan adalah hari dimana tangis pecah. Bukan tangis luka yang kita kumandangkan, tapi tangis bahagia karena bisa lahir ke dunia. Kita tak paham tata bahasa karena belum diajarkan bicara dan memang karena tak mampu dalam bertutur karena masih baru di pentas dunia. Hanya dengan tangis ini lah kita mengabarkan kepada dunia bahwa kita ada. “Aku dilahirkan dari seorang ibu ku yang luar biasa wahai dunia” mungkin itulah kalimat yang mungkin ingin kita ucapkan disaat pertama menatap dunia. Namun apa daya lidah tak bertulang masih tak sanggup untuk berucap. Tangislah yang dapat mewakilinya.
Dalam buaian kita disayang, dalam asuhan kita dimanja, dalam hal apapun kita selalu diperhatikan oleh mereka yang kita sebut sebagai orang tua. Usia semakin tinggi tangisan kita semakin tinggi, namun bukan lagi tangis emosi yang berharap kasih sayang tetapi tangis harapan kepada sesuatu yang mungkin saja sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan tetapi kita inginkan. Antara keinginan dan kebutuhan itu beda kawan.
Tangis yang kita keluarkan lebih kepada tangis karena keinginan yang kita minta kepada orang tua kita belum bisa mereka penuhi. Mereka bisa saja memenuhi tetapi mereka tak mau kita menjadi orang yang selalu berharap kepada mereka, sekalipun mereka sadar kalau merekalah sebenarnya tempat harapan kita. Atau ada lagi tangisan yang sebenarnya tidak perlu kita tangiskan. Adalah tangisan ketika orang kita anggap sebagai calon pendamping hidup kita pergi entah kemana, sesat kelain hati kah ? jangan buang air mata secara percuma wahai kaum hawa. Derajat kita memang masih ada yang memandang sebelah mata, tapi ingat lah kita tetap sama di mata sang Pencipta.
Tangis wanita adalah tangisan bidadari. Bidadari bagi orang tuanya. Bidadari pasangan hidupnya. Tangis kita wahai wanita adalah tangis yang berbeda. Setiap air mata yang kita teteskan ada kesedihan mendalam di dalamnya, tapi bukan untuk kesedihan semua. Tidak ada yang melarang kita untuk menangisi orang yang telah meninggalkan kita, namun tak semua tangisan itu untuknya. Yang perlu kita tangisi adalah ketika melihat kedua orang tua kita menangis karena sikap kita yang masih belum atau bahkan tidak pernah akan mampu membuat mereka bahagia. Kita boleh jadi bisa menangis melihat adegan sinetron tetapi itu hanya settingan, kita juga bisa jadi menangis karena mendengar curhatan sedih dari seorang teman dekat. Semua memang ada tangis di dalamnya, namun emosinya masih surut ketika dibandingkan menangis untuk orang tua kita.

0 Komentar pada "Jangan Buang Air Mata Secara Percuma"
- Masukkan komentar agar kita bisa saling mengenal satu sama lain
- Jangan memasukkan link pada komentar ya